Diam

Ratusan, ribuan, bahkan jutaan kata sudah terucap dari bibir kecil mereka. Dari bilik kamarku, ku menangkap makna tersirat keinginan dan harapan untuknya. Sungguh, tak ada kata kasar atau bersifat menjatuhkan. Tetapi, semua dilantunkan dalam suasana santai, bijaksana dan ketegasan. Selang waktu berjalan, tidak ku dengar balasan dari mulut seseorang yang ku harapkan. Seperti bercuap-cuap bersama tembok. Ya, tembok. Benda mati itu. Aku heran, apakah dia marah? terbebani dengan ucapan mereka? Atau sedang mencari kata yang tepat untuk disampaikan? Aku dan mereka menunggu. Menunggu jawaban dari mulutmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s